Belajar Perseptual, Belajar dari Pengalaman
Belajar Perseptual, Belajar dari Pengalaman
Oleh
Agus Sulistiawan
Mahasiswa Magister Psikologi
Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Belajar merupakan proses akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon, sedangkan persepsi merupakan hasil dari sebuah pendangan manusia akan segala sesuatu yang pernah di lihat dan di rasakannya. Jika digabungkan maka dapat dijelaskan bahwa belajar perseptual adalah proses sebuah pandangan manusia setalah adanya interaksi stimulus dan respon dari sesuatu yang pernah dilihat atau dirasakan. Contohnya ketika awalnya seorang siswa mempelajari bahasa baru, mereka membedakan kata-kata asing dengan kata-kata asli mereka. Mereka menempatkan kata-kata yang berbeda dalam kategori yang berbeda sampai pada akhirnya mereka dapat mengetahui perbedaan dalam kata-kata yang terdengar mirip dengan bahasa asli mereka. Mereka sekarang dapat mengetahui perbedaannya sedangkan dalam kategori pembelajaran mereka mencoba memisahkan keduanya.
Aktivitas perseptual pada dasarnya merupakan proses pengenalan individu terhadap lingkungannya. Semua informasi tentang lingkungan sampai kepada individu melalui alat-alat indra yang kemudian diteruskan melalui syaraf sensori ke bagian otak. Informasi tentang objek penglihatan diterima melalui indra telinga, objek sentuhan melalui kulit, objek penciuman melalui indra hidung. Tanpa penglihatan, pendengaran, penciuman, dan indra-indra lainnya, otak manusia akan terasing dari dunia yang ada di sekitarnya
Secara tidak langsung pembelajaran perseptual didefinisikan sebagai perubahan dalam persepsi sebagai produk pengalaman, dan telah dibuktikan. Kita sering secara tidak sengaja pernah melakukan proses ini, namun sama sekali sangat tidak kita sadari. Sebagai orang awam tahunya semua kejadian itu diakibatkan karena proses belajar namun tidak pernah memikirkan sedikitpun bahwa akal kita bekerja untuk berfikir dan bekerja dalam belajar tersebut. Pembelajaran persepsi lazim dan terjadi terus menerus dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman membentuk cara orang melihat dan mendengar. Pengalaman memberikan persepsi serta pengetahuan tentang identitas.
Jenis Persepsi
Persepsi terjadi ketika seseorang mendapatkan informasi melalui inderanya yang berasal dari sebuah pengalaman. Manusia pada umumnya dianugerahi lima macam indera, yaitu penglihatan (mata), pendengaran (telinga), peraba (kulit), penciuman (hidung), dan perasa (lidah). Masing-masing dari indera tersebut dapat memberikan informasi yang berbeda-beda. Karena adanya hal ini akhirnya menimbulkan munculnya berbagai jenis persepsi yang dapat dibuat oleh manusia, berbagai macam persepsi tersebut diantaranya seperti persepsi visual yang dibuat oleh manusia melalui informasi yang diperoleh dari indera penglihatan, yakni mata. Penglihatan dikenali memiliki kemampuan untuk mengenali cahaya dan menafsirkannya. Mata merupakan indera yang paling awal berkembang pada manusia yaitu pada saat bayi, oleh karenanya manusia cenderung menggunakan mata untuk membuat persepsi dibandingkan dengan indera yang lain. Bisa dikatakan bahwa pandangan pertama itu akan memberi gambaran tentang sesuatu hal.
Persepsi auditori didapatkan melalui indera pendengaran yaitu telinga. Pendengaran memiliki kemampuan untuk mengenali suara. Meskipun suara ditangkap dengan telinga, namun proses “mendengarkan” juga melibatkan berbagai syaraf dan otak. Dalam kehidupan sehari-hari terkadang kita tanpa melihat orangnya namun kita sudah paham bahwa itu adalah teman atau saudara. Kenapa bisa begitu? Karena secara pengalaman suara yang kita dengar dari teman dan saudara kita secara tidak langsung terekam oleh memori yang ada dalam otak kita. Disini pengalaman sangat mendukung sekali dalam kehidupan manusia.
Persepsi perabaan didapatkan melalui indera peraba yaitu kulit. Kulit merupakan bagian tubuh yang berada paling luar. Selain sebagai pelindung bagi organ-organ yang ada di dalam tubuh, kulit juga dilengkapi dengan bermacam reseptor yang peka terhadap berbagai rangsangan. Dalam kehidupan sehari-hari orang mampu membedakan nama buah hanya dengan meraba tanpa melihatnya, tentunya di rasakan melalui tekstur kulit buah tersebut. Tanpa ada pengalaman manusia mengenai jenis buah maka tidak akan pernah tahu dan mengerti apa nama buah itu. Persepsi penciuman didapatkan dari indera penciuman yaitu hidung. Penciuman dikenali memiliki kemampuan untuk merasakan bau. Sering kali kita bertemu banyak orang yang tidak menyukai bau-bau tertentu, misalnya buah durian atau nangka. Meskipun orang tersebut belum melihat bentuk buah tersebut namun melalui baunya yang dari jauh sudah terasa maka orang tersebut akan bisa menduga bahwa itu bau durian dan tanpa dengan sadar orang itu akan memilih untuk pergi. Dalam gambaran atau persepsi orang itu mengatakan bahwa buah durian itu sangat tidak enak, biasanya dikarenakan adanya pengalaman yang pernah terjadi pada orang tersebut sampai pada akhirnya orang tersebut tidak menyukai bau buah durian.
Persepsi pengecapan didapatkan dari indera pengecapan yaitu lidah. Pengegecapan merujuk pada kemampuan mendeteksi rasa suatu zat seperti makanan atau racun. Indera pengecapan terkait pada persepsi otak terhadap rasa. Pengecapan merupakan suatu bentuk kemoreseptor yang dapat merasakan empat sensasi pengecapan klasik, yakni manis, asin, masam, dan pahit. Namun belakangan ini ahli-ahli psikofisik dan neurosains mengusulkan untuk menambah kategori lain, yakni rasa gurih (umami) dan asam lemak
Pengalaman menentukan persepsi manusia
Pengalaman masa lalu sering mempengaruhi cara kita mempersepsikan dunia. Pengalaman dan wawasan itu sendiri dipengaruhi oleh situasi isu-isu sosial, kelompok sosial dan hal-hal lain yang dapat menjadi objek sikap. “Pengalaman adalah guru yang paling berharga” peribahasa yang tidak asing bagi mayoritas masyarakat. Peribahasa ini mengandung makna yang mendalam yang dapat diartikan sebagai kejadian atau peristiwa yang telah terjadi di masa lalu yang pernah dialami, dan pada kemudian hari dari peristiwa atau kejadian tersebut bisa jadikan sebagai pelajaran atau peringatan untuk menuju langkah perjalanan hidup berikutnya. Ada juga peribahasanya “hanya keladai masuk lubang yang sama” yang dapat dimaknakan dari pengalaman yang pernah kita dapatkan di masa lalu jangan sampai terulang lagi.
Persepsi manusia memang tidak akan pernah hilang dari yang namanya pengalaman. Mulai sejak kita kecil diajarkan segala sesuatu tentang kesamaan dan perbedaan yang terus menerus kita pahami dan kita lihat sampai pada sampai kita besar ini sudah mampu untuk membedakan hal tersebut. Proses pembelajaran yang berulang-ulang itulah yang akhirnya dapat tersimpan dalam memori manusia. Bai orang jawa mungkin akan sangat banyak sekali kata-kata yang mengandung persepsi turun-temurun seperti halnya ungkapan larangan-laranagan sebagai contoh “ Ora ilok dolanan beras, engko tangane kithing” jika di bahasakan tidak baik bermain beras, nanti tangannya keriting (dua jari tangan saling melekat /bertumpang tindih). Sebagai anak pasti bertanya itu maksudnya apa? dan tanpa ada penjelasan ungkapan larangan tersebut menjadi percontohan di kemudian hari dan ungkapan tersebut menjadi sebuah persepsi yang negatif.
Jika seseorang mampu untuk berfikir lebih maksud dari larangan tersebut adalah hal yang baik, sehingga persepsi yang ditangkap juga akan positif. Larangan tersebut bermakna jika beras adalah makanan pokok yang tidak untuk mainan anak-anak karena utamanya beras itu untuk dimasak, dimakan dan supaya beras tersebut tidak berserakan dimana-mana. Masih banyak sekali atau berbagai hal yang berhubungan dengan persepsi manusia yang berasal dari pengalaman. Sebuah pengalaman yang baik maka akan menimbulkan persepsi yang baik atau positif namun sebaliknya jika sebuah pengalaman itu buruk maka akan menghadirkan sebuah persepsi yang buruk atau negatif. Meskipun sebenarnya yang buruk itu tidak selalu buruk selama orang tersebut mau untuk belajar dan mempelajari lebih lanjut dan mampu mengambil maknanya.
Komentar
Posting Komentar